Jakarta, 2025 — Industri pengolahan kayu di Indonesia tengah menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku yang semakin terbatas. Untuk menjawab hal tersebut, Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) mendorong pengembangan kayu rekayasa (engineered wood) sebagai solusi inovatif dan berkelanjutan.
Dalam ajang Archify Live Jakarta 2025, ISWA menegaskan pentingnya kolaborasi antara industri dan kalangan akademisi guna mempercepat adopsi teknologi kayu rekayasa di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan, tetapi juga menciptakan produk kayu dengan ketahanan tinggi yang dapat digunakan hingga 50 tahun.
Ketua Umum ISWA, F.X. Supanji, menjelaskan bahwa kayu rekayasa seperti glulam (glued laminated timber) dan CLT (cross laminated timber) menjadi terobosan penting untuk menjawab kebutuhan konstruksi modern yang ramah lingkungan. Selain lebih kuat, material ini juga mendukung konsep pembangunan hijau (green building) yang kini semakin digencarkan di berbagai negara.
ISWA juga menyoroti pentingnya sinergi antara dunia usaha, peneliti, dan pemerintah. Dengan dukungan kebijakan yang berpihak pada inovasi, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama di pasar global kayu rekayasa. Hal ini sejalan dengan upaya mendorong transformasi industri kehutanan agar lebih bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.
Selain memberikan manfaat ekonomi, pengembangan kayu rekayasa turut berperan dalam menjaga kelestarian hutan melalui pemanfaatan hasil hutan secara optimal tanpa harus menambah tekanan terhadap hutan alam. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi sektor kehutanan dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.
-
Kumparan – “Industri & Akademisi Kembangkan Kayu Ramah Lingkungan, Usia Pakai Bisa 50 Tahun” (link)
-
Tribunnews – “Industri Kayu Hadapi Tantangan Bahan Baku, ISWA Dorong Inovasi Kayu Rekayasa” (link)
-
Suara Karya – “ISWA Dorong Inovasi Kayu Rekayasa di Archify Live Jakarta 2025” (link)
-
Antara News – “ISWA Dorong Inovasi Kayu Rekayasa Pacu Kontribusi Industri Pengolahan” (link)

